Bank Indonesia melaporkan bahwa dana masyarakat di bank terus membanjir. Bank Indonesia mencatat selama September nilai dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional naik Rp10,2 triliun menjadi Rp1.857,3 triliun.
Ironisnya, kenaikan dana masyarakat itu tidak diimbangi dengan penyaluran kredit yang gencar. Nilai outstanding kredit dari Agustus ke September malah susut tipis dari Rp1.400,4 triliun menjadi Rp1.399,9 triliun.
Ketimpangan itu menyebabkan tumpukan dana yang parkir di instrumen moneter Sertifikat Bank Indonesia (SBI) semakin tinggi. Per pekan terakhir Oktober, dana yang parkir di SBI mencapai Rp245 triliun. Dana itu dimiliki perbankan dan para pemilik dana asing.
Bankir merasa nyaman, karena penempatan dana di SBI menghasilkan bunga tinggi, setidaknya 6,5%. SBI adalah alat terbaik untuk penempatan dana jika tidak ada permintaan kredit yang cukup layak dipenuhi. Bank banyak menaruh dana di SBI berjangka satu bulan dan tiga bulan, yang bunganya antara 6-7%.
Keuntungan SBI memang lebih rendah daripada bunga kredit. Namun SBI punya keunggulan daripada kredit, yaitu tingkat risiko yang rendah. Bankir menolak dikatakan malas menyalurkan kredit. Mereka beralasan, permintaan kredit sangat rendah akibat krisis.
Kalangan perbankan melihat, daripada dipaksakan nanti malah menjadi kredit bermasalah. Lebih baik ditahan dulu. Ini juga bentuk prinsip kehati-hatian atau prudent bank.
Bank meraup pendapatan yang tidak sedikit dari SBI. Per Agustus 2009, bank mengantongi pendapatan bunga Rp13,18 triliun dari SBI, naik 23,85% dari periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp10,64 triliun.
Namun kita juga perlu memperhatikan laporan BI bahwa biaya operasi moneter yang menjadi tanggungan Bank Indonesia (BI) membengkak. Padahal laju inflasi tahunan hingga Oktober masih landai-landai saja, tepatnya 2,57%.
BI mengakui, surplus anggaran sampai awal November Rp450 miliar. Angka itu jauh lebih rendah ketimbang surplus per akhir Juni 2009 lalu, yaitu Rp3,3 triliun.
Rupanya ada tekanan beban bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Meski tren bunga acuan turun, namun volume SBI terus naik.
Dana yang ditempatkan di SBI per awal November mencapai Rp280 triliun, jauh di atas nilai per akhir tahun lalu, yaitu Rp166,51 triliun.
SBI membengkak lantaran penyaluran kredit perbankan masih tersendat. Sampai akhir September, bank cuma mengalirkan kredit Rp46 triliun. Di saat yang sama, dana masyarakat yang mengalir ke bank naik Rp104 triliun.
Meski penghasilan BI merosot, BI memperkirakan rasio modal terhadap total kewajiban moneter tetap di atas 9%. Sebelumnya pemerintah memperkirakan rasio modal BI berkisar 9,85% pada 2009, dan menyusut menjadi 6,68% pada 2010.
Para analis menilai, hal ini berkaitan dengan peningkatan likuiditas rupiah akibat aksi BI membeli dollar AS di pasar. BI lantas kembali menyerap rupiah melalui SBI. Tujuannya mengendalikan inflasi sekaligus menjaga rupiah.
Dalam menghadapi masalah ini, para ekonom menyarankan BI mulai membatasi penerbitan SBI. Selain untuk menghemat ongkos moneter, juga untuk meningkatkan uang beredar di masyarakat dan perbankan, atau base money.
Jika uang beredar bertambah, bank akan mengalirkan dana ke kredit. Lalu terjadi persaingan menyalurkan kredit di perbankan, sehingga dengan sendirinya bankir mau menurunkan bunga kredit.
BI perlu mencermati bahwa saat ini laju pertumbuhan uang masih negatif. Kondisi ini yang memaksa suku bunga tetap bertahan tinggi. Padahal jika suku bunga tinggi, maka para pengusaha dan pedagang enggan untuk meminjam dana ke perbankan. Belum lagi masalah iklim usaha yang masih jauh dari kondusif.
Dilema ini memang harus dipecahkan oleh BI, pemerintah dan dunia usaha. Kita berharap, persoalan ini bisa diatasi segera. (editorial: inilah.com)
BI dan Dana Masyarakat Indonesia
November 9, 2009 by bocahkawanua

