Feeds:
Posts
Comments

Archive for August 10th, 2009

Wacana penyusunan kabinet adalah agenda yang kini ditunggu-tunggu masyarakat. Seperti biasanya, SBY belum ingin menyentuh soal itu dengan alasan tahapan politik harus menunggu agenda pelantikan presiden 20 Oktober nanti. Tetapi hari-hari ini kita juga sedang menunggu hasil putusan akhir Mahkamah Konstitusi menyangkut gugatan kubu Megawati dan kubu Jusuf Kalla tentang “kecurangan” Pilpres yang lalu. Itu berarti secara etis dan legal, SBY memang belum dapat sepenuh hati merayakan kemenangannya. Konsekuensi dari gugatan sengketa pemilu adalah semua pihak seharusnya menghormati proses pengadilan Mahkamah.
Jadi, komentar kubu SBY bahwa soal DPT bukan lagi masalah karena MK telah membolehkan penggunaan KTP pada Pilpres yang lalu, adalah kurang etis karena proses pengujian gugatan lawan-lawan politiknya itu merupakan kewenangan Mahkamah. Artinya, sengketa pemilu yang penyebabnya adalah soal DPT, tetap merupakan kasus yang harus diperiksa MK karena secara nyata soal itu dianggap sebagai penyebab kekalahan lawan politik SBY.
Putusan MK yang mengizinkan penggunaan KTP adalah dalam konteks mengatasi persoalan DPT yang kacau itu. Jadi tetap saja soal DPT merupakan tanggung jawab KPU, karena basis penyelenggaraan Pilpres adalah DPT dan bukan KTP. Proses hukum untuk mengetahui duduk perkara kekacauan DPT itu adalah tetap penting karena di situlah sepenuh-penuhnya aspek ‘kecurangan’ Pilpres dapat ditemukan. Demi asas keadilan itulah kita menahan diri untuk membicarakan posisi-posisi kekuasaan dalam kabinet mendatang. Hari-hari ini kita seperti terjebak dalam ruang vakum politik, yaitu kondisi dimana momentum untuk membicarakan isi politik kabinet mendatang belum dapat dibicarakan secara tuntas karena bagaimanapun keputusan MK terhadap gugatan Mega dan JK itu tetap berpotensi membatalkan hasil perhitungan suara KPU yang memenangkan SBY-Budiono. Dalam konteks menunggu putusan MK itu, sangat aneh mendengar pernyataan beberapa tokoh PDIP yang mengesankan keinginan partai itu untuk masuk kabinet. Artinya, keseriusan PDIP untuk membuktikan dalilnya tentang kecurangan Pemilu menjadi ‘konyol’ karena partai itu terkesan sekedar berjuang untuk kekuasaan dan bukan untuk keadilan. Lebih aneh lagi bila SBY berpikir untuk merangkul PDIP (dan Golkar) dalam kabinetnya. Ini sangat melanggar akal sehat publik karena pilihan politik publik yang menghasilkan distingsi ideologis antara Partai Demokrat dan PDIP menjadi kabur. Artinya, kehendak rakyat dalam Pemilu dikalahkan oleh negosiasi dan transaksi kepentingan diantara elit partai. Dengan kata lain, percuma saja menyelenggarakan Pemilu bila pada akhirnya distingsi-distingsi ideologis dikooptasi oleh pragmatisme politik para elit partai. Berbeda dengan kasus Golkar, partai itu memang tidak secara utuh mendukung kubu JK. Itulah sebabnya manuver pragmatisme di dalam Golkar lebih memungkinkan partai itu diterima dalam koalisi kekuasaan SBY kelak. (more…)

Read Full Post »

Pengguna internet harus makin dewasa menggunakan Facebook. Selain dampak positif, situs jejaring sosial juga memiliki dampak negatif. Penelitian terbaru mendapati Facebook bisa memunculkan monster bermata hijau yang mengancam usernya.
Studi yang dilakukan oleh peneliti di University of Guelph di Ontario Kanada menemukan ketagihan pada Facebook bisa berbahaya jika user memiliki pasangan. Facebook mendorong user yang memiliki pasangan terobsesi untuk mencari informasi mengenai pasangannya.
Saat melihat foto atau gosip pasangannya, rasa cemburu memicu rasa penasaran untuk mencari detail yang lebih mencurigakan. Penemuan itu dipublikasikan di CyberPsychology and Behavior. Paper berjudul “Facebook Memunculkan Monster Berwarna Hijau Kecemburuan”
itu menyebut perasaan cemburu mempengaruhi perilaku negatif dan perilaku sosial.
“Makin banyak mahasiswa meluangkan waktu di Facebook, mereka makin merasa cemburu pada pasangannya, mendorong meluangkan waktu lebih banyak di Facebook. Mencari informasi tambahan malah semakin membakar cemburu,” kata Professor Dr Brenda Wiederhold editor di CyberPsychology & Behavior.
Hasil penelitian itu mendukung studi sebelumnya yang mendapati seperenam mengaku secara sembunyi-sembunyi mengawasi email, pesan Facebook dan kebiasaan internet pasangannya. Wanita lebih banyak mematai-matai pasangannya hingga 28%, sedangkan pria hanya 16%.
Menurut survei yang dilakukan lembaga nirlaba YouGov, kecenderungan memata-matai pasangan itu makin turun jika umur bertambah. User yang berusia di bawah 25 tahun, sepertiganya melakukan mata-mata dan untuk yang berusia di atas 54 tahun hanya 12%. (more…)

Read Full Post »