Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘populer’ Category

Tandukan tajam matador Spanyol akhirnya menghentikan ambisi tim Panser di Piala Dunia 2010. Carles Puyol menjadi pahlawan Spanyol mengalahkan Jerman di partai semifinal, di Moses Mabhida Stadium, Durban, Kamis (8/7/2010) dini hari WIB.
Tandukan keras Puyol menyambut umpan sepak pojok dari Xavi memecah kebuntuan Spanyol menit 73. Gol itu sekaligus melangkahkan kaki Spanyol di final untuk menantang Belanda yang menundukkan Uruguay dengan skor 3-2. Sundulan bek asal Barcelona itu gagal dibendung Neuer dan mengubah kedudukan menjadi 1-0.
Jerman memang tampil antiklimaks saat menghadapi Spanyol. Kehilangan Thomas Muller akibat akumulasi kartu membuat lini tengah Jerman timpang. Nyaris, tak terlihat permainan cepat, bertenaga, dan kerjasama tim yang diperagakan Ozil cs kala menghadapi Inggris dan Argentina. (more…)

Read Full Post »

Paul Gurita sang peramal

Sejumlah kalangan memprediksi Jerman mampu mengalahkan Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2010, Rabu (7/7/2010) dini hari Wib. Namun, seekor gurita bernama Paul mempunyai ramalan bahwa “Matador” yang akan jadi pemenang.
Sama halnya dengan gurita-gurita lain, Paul hanya binatang biasa. Namun, Paul mempunyai kemampuan meramal yang luar biasa.
Cara meramal Paul dengan memberi pilihan makanan yang sama dalam dua kotak plastik bertanda bendera tim yang bertanding. Makanan yang dimakan di kotak bertanda tertentu yang lebih dulu dimakan sebagai tim yang akan menang. (more…)

Read Full Post »

Ketika berjuang, mungkin seorang pahlawan menuai banyak cibiran, bahkan dianggap pemberontak. Tetapi ketika perjuangannya membuahkan hasil yang baik, atau setidaknya membangkitkan sebuah kesadaran publik, baru masyarakat memandang kagum adanya

Hal seperti itu dirasakan almarhum Letkol Inf. Herman Nicolas Ventje Sumual ketika memperjuangkan keyakinannya. Tokoh terkemuka Sulawesi Utara ini bahkan sudah memikirkan soal hak asasi manusia, reformasi, dan otonomi daerah sejak jauh hari. Gerakan Ventje dan kelompoknya yang dibangun atas kesadaran mengenai pemberian otonomi seluas-luasnya kepada daerah, justru disorot sebagai pemberontakan oleh pemerintahan Orde Lama.
Gerakan Perjuangan Semesta atau Permesta (1957-1961) yang diproklamirkan Ventje akhirnya ditumpas dan secara de facto tampaknya gagal. Tetapi secara prinsip, gerakan itu menuai hasil, manakala masyarakat menyadari makna sebenarnya di balik perjuangan itu. Kini, Ventje dipandang sebagai seorang tokoh besar, setidaknya untuk Indonesia Timur, lebih khusus Sulawesi Utara.
Dalam berbagai kesempatan, pria kelahiran Remboken/Minahasa, 11 Juni 1923, ini menekankan bahwa Permesta bukan pemberontakan, melainkan sebuah deklarasi politik. Bagi Ventje, isi deklarasi Permesta ya seperti gerakan reformasi di zaman ini. Prinsip perjuangan Permesta adalah “Lebih baik dijajah bangsa asing, daripada dijajah sukubangsa sendiri”
Dia berpatokan pada Undang Undang Dasar sementara Tahun 1950 yang menegaskaan otonomi seluas- luasnya bagi daerah dan pengakuan hak asasi manusia. Dalam pandangan sadar Ventje ketika itu, hal-hal tersebut tak pernah dilaksanakan oleh pemerintah. Artinya, menurut dia, pemerintah telah melakukan pelanggaran konstitusi.
Dan untuk mempertahankan keyakinan tersebut, Ventje dan kelompoknya tak segan-segan angkat senjata. Mereka yang nekat angkat senjata adalah orang-orang yang ikut berjuang dengan darah dan air mata dalam pembentukan Tentara Nasional Indonesia dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebut saja nama-nama seperti Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dahlan Djambek, Kolonel Warouw, dan Kolonel AE Kawilarang. (more…)

Read Full Post »

“Seharusnya mereka mengutamakan pelayanan dan keselamatan pasien, bukan uang. Kasihan, banyak saudara-saudara kita yang susah.

Petikan kalimat itu terucap spontan dari bibir Buce Lotanubun ketika mengadu ke Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Buce mengadukan pelayanan yang diterima istrinya, Siska Yulia Fransiska Makatey, pasien yang meninggal saat proses melahirkan di RSUP Prof Kandou, Sabtu 10 April 2010.
Keluarga Siska menduga kematian itu akibat malapraktik. Buce mengadu ke Dewan dengan harapan, cukup istrinya saja, jangan ada lagi orang lain yang mengalami hal serupa.
Selain dugaan malapraktik, sejumlah anggota Komisi IV mengendus dugaan praktik komersialisasi terhadap obat-obat yang telah dibiayai Asuransi Kesehatan (Askes) oleh oknum-oknum paramedis di rumah sakit. Dewan menduga oknum perawat menekan pasien dan keluarganya untuk membayar obat yang seharusnya sudah dibiayai negara melalui Askes. Dewan berjanji akan mempertanyakan hal ini kepada pihak rumah sakit.
Kata kunci dalam kasus ini adalah “komersialisasi kesehatan”. Praktik ini sudah sangat lama terasa di negeri ini, namun seringkali berlalu begitu saja dan akhirnya terlupakan sampai datang kasus berikutnya. Begitu seterusnya. Bukankah kita sering mendengar dan membaca berita mengenai pihak rumah sakit menolak pasien kurang mampu atau memberikan pelayanan buruk bagi pasien pemegang kartu Jamkesmas? Sebuah keanehan ketika rumah sakit semestinya berorientasi pelayanan, apalagi rumah sakit milik pemerintah, justru menolak pasien bila tak mampu membayar di muka. Tak jarang pasien gawat darurat keburu meninggal lantaran terlalu lama menunggu layanan medis.
Itu bisa terjadi lantaran beberapa rumah sakit saat ini telah menjadi sebuah industri yang menggunakan perspektif untung rugi semata. Bila sudah begini paradigmanya, tentu saja orang miskin menjadi musuh utama rumah sakit. Maka tak heran ketika orang miskin datang berobat, pertanyaan pertama yang mereka terima bukannya “sakit apa” tetapi “mana uang mukanya.” Itulah sebabnya muncul pemeo, “orang miskin dilarang sakit”. Kalau kita ubah sedikit ‘lelucon’ itu, akan menjadi, “hanya orang kaya yang boleh hidup.”
Komersialisasi layanan kesehatan benar-benar menjadi ancaman serius terhadap kemanusiaan. Ancaman sangat serius terhadap nyawa orang-orang miskin. Pemerintah Amerika Serikat menyadari betul soal ini. Sehingga Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, rela menunda kunjungan luar negeri, termasuk ke Indonesia, demi memperjuangkan lolosnya rancangan undang-undang kesehatan di negerinya, yang lebih berpihak kepada kaum miskin. (more…)

Read Full Post »

Ada dua momentum besar soal pajak pada minggu pertama bulan April ini. Pertama, kabar gembira dari tindak lanjut tertangkapnya Gayus Tambunan dalam soal mafia pajak. Gayus mungkin akan “menyanyi” sehingga aktor-aktor di belakangnya makin berpeluang untuk diseret ke meja hijau. Ini bisa menjadi awal pengungkapan aspek sistemik dari mafia pajak.
Kedua, 1 april 2010 adalah awal berlakunya UU No 42 tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU No 8/1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Barang dan Jasa dan Pajak atas Barang Mewah. Yang menarik dari sini adalah, PPN berlaku untuk produk pakan, produk olahan pertanian dan perikanan. Isu kedua inilah yang menjadi fokus tulisan ini.
Isu PPN untuk pertanian sempat ramai dibicarakan menjelang pembahasan UU PPN pertengahan tahun lalu. Kala itu berkembang wacana mengenakan PPN kepada produk primer pertanian, peternakan, dan perikanan.
Wacana ini spontan ditentang berbagai kalangan. Diantara kelompok kritis itu adalah Direktorat Riset dan Kajian Strategis IPB dan InterCafe IPB yang langsung menggelar diskusi dan menyajikan hasil kajian yang menyimpulkan rencana itu tidak tepat. (more…)

Read Full Post »

Berita duka menyelimuti bangsa Indonesia, setelah mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, Rabu sekitar pukul 18.40 WIB, meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, karena sakit. Bukan saja warga Nahdlatul Ulama (NU), seluruh rakyat Indonesia merasa kehilangan dengan wafatnya tokoh ormas Islam terbesar di Indonesia itu.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar pukul 18.30 WIB sempat menjenguk Gus Dur untuk mengetahui kondisi terkininya di RSCM. Kepala Negara berada di rumah sakit itu hanya sekitar 30 menit dan pada pukul 19.00 WIB langsung kembali ke Istana dan memanggil Wapres Boediono dan Menkes Endang Sedyadingsih untuk membahas rencana lebih lanjut terkait kondisi Gus Dur.
Dalam pandangan Wakil Presiden Boediono, almarhum Gus Dur merupakan sosok pemersatu bangsa yang hingga kini belum tertandingi oleh siapa pun. “Kita benar-benar kehilangan seorang tokoh besar, tokoh pemersatu bangsa dalam sejarah modern Indonesia,” kata Boediono seperti disampaikan juru bicaranya, Yopi Hidayat. Boediono menambahkan, saat ini sangat sulit untuk mencari tokoh-tokoh pemersatu bangsa seperti Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. (more…)

Read Full Post »

Keramaian Kota Langowan

Suasana perayaan natal tahun 2009 di Kabupaten Minahasa berlangsung meriah. Semarak kembang api di angkasa, ledakan mercon dan petasan turut mewarnai kegembiraan di hari yang berbahagia itu yang tetap mengedepankan kesederhanaan . Terlebih khusus perayaan Natal di Langowan seperti tahun tahun sebelumnya tradisi Pasiar deng Bendi tetap menjadi primadona masyakarat yang ada disana baik tua maupun muda. Tidak seperti natal di hari kedua,natal di hari pertama tepat tanggal 25 Desember tidak terlalu ramai, hiruk-pikuk orang yang melakukan kegiatan pasiar bendi tidak begitu ramai dikarenakan hujan yang terus mengguyur wilayah Langowan, namun tidak mengurangi sukacita orang yang merayakan natal di hari tersebut. Barulah di natal hari kedua (26/12) keramaian di Langowan membludak, dikarenakan kendaraan bendi yang mulai memadati pusat pertokoan Langowan yang dijadikan jalur Pasiar Bendi. (more…)

Read Full Post »

Older Posts »