Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘indonesia’

Indonesia menargetkan agar skema Pengurangan Emisi dari Penggundulan dan Perusakan Hutan (REDD) menjadi salah satu keputusan KTT ke-15 Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen Denmark.

Dengan didukung oleh semua negara peserta konferensi, delegasi Indonesia ingin agar REDD masuk dalam salah satu keputusan COP.

Karena REDD sangat menguntungkan negara berkembang,” kata Ketua Delegasi RI (Delri) , Rachmat Witoelar di sela-sela penyelenggaraan KTT ke-15 Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark.
Dia mengatakan mayoritas negara-negara Kelompok 77, terutama negara-negara yang mempunyai hutan, sepakat untuk membawa agenda REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) menjadi keputusan di KTT tersebut. (more…)

Read Full Post »

National Summit

National Summit mewarnai aula Birawa di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Kamis (29/10) pagi. Aula ini menjadi lautan batik. Sekitar 1.400 undangan National Summit kompak menggunakan batik, mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga pejabat tingkat kecamatan. Hal itu sesuai dresscode yang dikehendaki panitia, dan tertulis dalam undangan. National Summit yang dikomandani Wakil Presiden Boediono ini digelar 29-31 Oktober untuk menghimpun masukan dari para pemangku kepentingan yang merasa kinerjanya dihambat oleh sejumlah peraturan, mulai dari surat keputusan bupati hingga peraturan pemerintah.Batik yang dikenakan pun bermacam-macam dan tidak ada satu potong batik pun yang memiliki motif serupa. Bagi para pecinta batik, acara ini mereka jadikan ajang berburu ide kreatif membuat busana batik unik. (more…)

Read Full Post »

Pemilu 2009 sudah usai. Lembaga baru kekuasaan di republik sudah resmi bertugas: wakil rakyat sudah dilantik, Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pun resmi memasuki Istana, serta kabinet baru sudah terbentuk. Meski Pemilu 2009 meninggalkan persoalan administratif, pesta demokrasi itu memberi harapan bagi kehidupan politik demokrasi di Indonesia. Catatan penting yang bisa ditarik adalah Indonesia kini mulai merintis format baru politik pasca reformasi. Tapi, ke mana kah arah poltik baru itu bergerak?
Pasca pemilu nasional, konstelasi politik di Indonesia secara alamiah menata ulang dirinya sendiri. Kutub-kutub politik yang saling menguat dan menjauh satu sama lainnya semasa pemilu, mulai mencair kembali. Fenomena ini terlihat jelas pada perilaku elite politik. Gelombang pertama reposisi ini tentu saja saat pemilu anggota legislatif selesai dan pemilu presiden dan wakil presiden hendak dimulai. Pasangan capres dan cawapres mengumpulkan partai-partai politik yang berkenan menyokong pencalonan diri mereka.
Pada fase ini keganjilan mulai terlihat. Partai-partai yang berbeda “platform” bergabung mendukung kandidat sama. Calon dari Parta Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, didukung baik oleh partai yang dikenal bersifat nasionalis atau plural (PKPI, PPIB, PAN) dan partai yang berbasis sentimen keagamaan (PDS, PKS, PBB, PPP, PBR). Disebut keganjilan karena partai yang mewacanakan syariah Islam pada masa kampanye duduk bersama dengan partai nasionalis, atau partai Kristen. Isu-isu yang sepertinya prinsipil ternyata bukanlah wilayah hitam-putih bagi para elite politik.
Studi yang dilakukan Kuskhirdo Ambardi mendeskripsikan sejarah politik kontemporer Indonesia ada pembelahan sosial (cleavage): agama-sekuler, kelas sosial, kesatuan-federal, etnisitas, dll. Dia menjadi ranah pembeda antar kelompok politik, sekaligus pula medan perdebatan. Uraian ini tidak cukup memetakan politik Indonesia karena dengan mudahnya para elite politik menegosiasikan identitas politiknya. Merujuk ke periode tahun 1999, betapa Megawati dengan PDIP-nya sebagai pemenang pemilu tidak mendapat amanat dari MPR karena sentimen agama dan gender oleh kelompok poros tengah, tapi pada tahun-tahun berikutnya, kelompok sama pula yang mendaulatnya menjadi presiden. (more…)

Read Full Post »

Banyak jalan ke Roma. Itulah pepatah lama. Namun, arah ke pembangunan ekonomi dalam abad ke-21 tampaknya cuma ada dua: Jalan Cina dan Jalan India. Keduanya berbeda dalam prinsip dan kebijakan.
Jalan yang ditempuh Cina, di bawah semboyan Selamat Datang Investasi Asing. Kalau tak percaya, datanglah ke pusat perbelanjaan Jakarta dan kota besar lain di. Hampir semua lapaknya dipenuhi barang Zhongguo Zhizao atawa Made in China. Gejala serupa juga terlihat pada produk komputer dan aksesorisnya.
Di AS, banjirnya barang impor dari Negeri di Tengah Dunia itu tercermin oleh Wall Mart, toko serbaada yang menyediakan keperluan untuk kaum kelas menengah ke bawah. Dan Wall Mart selalu ada di kota-kota paling kecil pun di negeri Paman Sam itu.
Itu semua adalah akibat dari kebijakan Cina setelah mendiang Deng Xiaoping pada awal 1980-an memperkenalkan reformasi dan keterbukaan (gaige he kaifang). Lokomotif utama kebijakan itu adalah Foreign Direct Investment (FDI). (more…)

Read Full Post »