Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘teroris’

Tindakan dan aktifitas terorisme di Indonesia tidaklah terlepas dari konteks global yang mengitarinya. Terorisme jaringan Noordin M Top beserta sel-selnya merupakan ramifikasi dari pertautan Jamaah Islamiyah (JI) dan Al Qaeda.
Sedangkan Al Qaeda pada mulanya adalah kelompok ‘American Mujahidin’ yang berperang menghalau komunis Soviet dari Afghanistan. Namun akibat pertikaian kepentingan antara Osama Bin Laden dan AS, Al Qaeda akhirnya tumbuh sebagai kekuatan teror atas kepentingan Amerika di seantero dunia.
Resonansi kelompok Islam radikal dari berbagai belahan bumi atas gerakan Al Qaeda relatif besar. Dan itu juga merepotkan Indonesia, Filipina, Malaysia dan seterusnya.
Teorisme JI dan Al Qaeda sedikit banyak belajar dari terorisme negara oleh AS. Noam Chomsky dalam wawancara dengan majalah Monthly Review pernah mengungkapkan bahwa AS sebenarnya adalah negara teroris paling terkemuka di dunia.
Bahkan pemikirannya yang tertuang dalam buku ‘Pirates and Emperors: International Terrorism in the Real World’ menyingkapkan bahwa AS digambarkan sebagai sosok maling besar yang sedang meneriakkan maling kepada segelintir maling-maling kecil.
AS adalah maling karena dengan segala cara menguasai dunia, baik dari sektor ekonomi, sosial, politik dan budaya. Ironisnya, AS tak pernah disebut maling, malahan dijuluki sebagai “polisi dunia”.
Pemikiran Chomsky menjadi referensi masyarakat internasional dalam menyikapi berbagai tindakan kontroversial AS. Serangan AS ke Irak dan Afghanistan, sebagaimana aneksasi Israel atas Palestina, adalah bentuk terorisme negara menurut pandangan Chomsky. Penyerangan ke Irak oleh AS bersandarkan argumen Pentagon untuk memerangi terorisme dunia.
Namun klaim AS itu batal dan tak mencapai sasaran yang dikehendaki, karena dalam perspektif pelaku terorisme terhadap AS seperti Al Qaeda dan JI, negara adidaya itu bukan korban, melainkan justru sebagai pelaku state terrorism yang lebih dahulu bersifat ofensif.
Demikian halnya sikap AS dalam membela Israel. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk membungkus aksi teror dari Israel atas Palestina dengan hukum sebagai justifikasi. Israel yang berkali-kali mendapat pembelaan “hukum” oleh AS atas state terrorism yang dilakukan terhadap Palestina dalam forum-forum PBB, yang puncaknya penggunaan hak veto. (more…)

Read Full Post »

Bom Mega Kuningan

Bom Mega Kuningan

Masih jelas dalam ingatan kita terjadinya serentetan pengeboman yang dilakukan oleh sekelompok orang yang sering diidentifikasikan oleh aparat keamanan sebagai teroris. Menurut Wikipedia, terrorism adalah the apex of violence atau puncak aksi kekerasan. Terorisme memang terkait dengan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang merasa dirinya paling benar dan tidak puas atas sesuatu yang diyakininya.
Pemboman yang dilakukan oleh sekelompok teroris terhadap bangunan komersial di Jakarta diawali dengan ledakan di Bursa Efek Indonesia (saat itu bernama Bursa Efek Jakarta) pada tanggal 14 September 2000. Lalu diikuti oleh bom di Hotel JW Marriot Mega Kuningan pada tahun 5 Agustus 2003, kemudian bom di Kedutaan Besar Australia di Kuningan pada tanggal 9 September 2004 serta yang terakhir kembali di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Mega Kuningan pada tanggal 17 Juli 2009. Akibatnya puluhan korban tewas dan ratusan lainnya cedera seumur hidup. Korban bom berasal dari berbagai bangsa di dunia karena terorisme memang tidak mengenal kebangsaan.
Tingginya korban dan seringnya bangunan komersial menjadi sasaran peledakan oleh teroris patut diduga karena, lemahnya intelijen Negara, kurang presisinya pemeriksaan keamanan terhadap orang-orang yang keluar masuk bangunan komersial, kurang baiknya kualitas struktur bangunan yang ada, serta terlalu dekat dan terbukanya entrance atau jalan masuk bangunan komersial tersebut dari jalan raya atau akses publik.
Membahas sisi lemahnya intelijen Negara dan aparat keamanan terkait dengan maraknya aksi pengeboman tentunya sulit karena hal ini bukan domain pemilik bangunan maupun publik. Sebaiknya kita bahas sisi lain dari penanggulangan atau antisipasi aksi pengeboman terkait dengan regulasi yang ada, misalnya masalah kualitas bangunan dan dekatnya jarak lobby gedung dengan entrance atau jalan keluar masuk pengunjung dan penghuni yang saat ini banyak terdapat pada bangunan komersial di Jakarta. (more…)

Read Full Post »